Bid’ah Membawa Berkah

Image Posted on Updated on

 

Buku ini ditulis lebih disebabkan karena kejengahan penulisnya ketika mendengar dan membaca buku-buku yang mengulas tentang amalan-amalan ibadah yang sudah mentradisi di masyarakat dan dilakukan oleh umat Islam, sebagai amalan-amalan bid’ah yang sesat, yang katanya tidak berlandaskan kepada al-Qur’an dan sunnah nabi Muhammad saw. Jika demikian halnya, maka akan banyak sekali umat Islam di Indonesia yang nota bene akan masuk ke dalam api neraka disebabkan oleh karena mengamalkan amalan-amalan yang dianggap sesat tersebut.
Menurut penulisnya, amalan-amalan yang dianggap sesat itu, juga banyak dilakukan oleh para ulama yang tergolong dalam kelompok Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah mereka para ulama yang shalih itu tidak mengetahui bahwa amalan-amalan yang mereka lakukan itu sebagai bid’ah yang menyesatkan?
Tentu saja mereka tahu itu. Tetapi, kenapa tetap diamalkan? Ini disebabkan kerana mereka memahami, bahwa bid’ah itu tidak selamanya sesat dan menyesatkan. Tetapi, ada juga amalan bid’ah yang baik (bid’ah hasanah), bahkan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi umat.
Pandangan yang menyatakan bahwa semua bentuk bid’ah itu adalah sesat (dhalalah) merupakan pandangan kaum Wahabiyah. Paham ini dengan mudahnya menghukumi bid’ah, kafir, syirik, dan ahli neraka terhadap kaum Muslimin yang melakukan amaliyah–amaliyah yang berbeda dengan mereka.
Golongan Wahabi muncul di Saudi Arabia sekitar abad ke 17 M, yang dipelopori oleh seorang tokoh agama terkemuka saat itu yang bernama Syeikh Muhammad Ibnu Abdul Wahhab. Beliau lahir di Unaiyyah, Nejd, Saudi Arabia tahun 1703 M/ 1115 H dan wafat di Dar’iyyah, Saudi Arabia, tahun 1792 M. Tujuan awalnya adalah untuk memurnikan Akidah Islam dari berbagai bentuk kemusyrikan.
Kelompok Wahabi sering menganggap remeh kelompok lain yang tidak sefaham dengan mereka. Bahkan, mereka sering mengkafirkan terhadap ke-lompok Muslim lain yang berbeda pendapat denganya. Akibatnya, muncul sikap fanatik seperti paling benar, paling mulia serta paling konsekuen dalam menjalankan syariat Islam. Bahkan, kelompok ini juga mengklaim dirinya sebagai kelompok yang pa-ling bersih dan murni akidahnya sehingga golongan ini merasa terhindar dari segala kerusakan dan pe-nyimpangan ajaran agama yang dianutnya.
Golongan Wahabi di dalam menyampaikan dakwahnya, terkesan egois, sombong, dan angkuh. Sehingga, amaliyah-amalaiyah yang dilakukan oleh kelompok muslim lainnya, yang tidak sejalan dengan amaliyahnnya dianggap bid’ah yang sesat dan menyesatkan.
Nampaknya, munculnya golongan ini, yang lahir di kota Najd, sudah diprediksikan oleh Rasulullah SAW, sebagai golongan pengikut setan. Mengenai hal ini Rasulullah SAW bersabda:
“Dari Ibnu Umar ra. bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Ya Allah, berkahilah bagi kami negeri Syam, ya Allah berkahilah bagi kami negeri Yaman, mereka memohon do’akan juga bagi Najd kami! Beliau menjawab, di Najd itu tempatnya segala kegoncangan dan berbagai macam fitnah, dan disanalah akan lahir generasi pengikut setan” (HR. Imam Ahmad Ibn hanbal).
Hadis ini dengan jelas memberikan gambaran kepada kita, bahwa Rasulullah saw berdo’a kepada Allah agar negeri Syam dan Yaman diberkahi, tetapi tidak demikian dengan negeri Najd. Ketika mereka memohon agar Najd juga diberkahi, justru Rasulullah SAW mengatakan bahwa di Najd itu tempatnya “segala kegoncangan dan berbagai macam fitnah, dan disanalah akan lahir generasi pengikut setan”. Dan kita tahu bahwa tokoh ulama Wahabi, Syeikh Muhammad Ibnu Abdul Wahhab, lahir di Najd. Lalu, Apakah kelompok Wahabi itu pengikut Setan? Wa-llahu a’lam!
Dalambukul ini, tidak dibahas tentang kelompok Wahabi ini secara serius dan panjang lebar. Tetapi yang ingin saya pertegas adalah bahwa klaim penyesatan yang dilakukan oleh kelompok Wahabi di dalam berdakwah itu sangat menyakitkan dan menodai umat Islam yang lain.
Padahal, yang berhak menentukan, apakah kita sesat atau tidak itu hanyalah Allah SWT. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam QS. al-Nahl ayat 125, sebagai berikut:

 “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu de-ngan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. al-Nahl/16: 125)

Atas dasar itulah, saya tergugah untuk menulis buku dengan judul: “Bid’ah Membawa Berkah: Amalan Bid’ah yang Dianggap Sesat Tetapi Membawa manfaat bagi Umat”. Dengan tulisan ini, saya ha-nya ingin menunjukkan bahwa tidak semua amalan bid’ah itu sasat, tetapi ada juga amalan bid’ah yang baik, bahkan memberikan berkah atau manfaat sebesar-besarnya bagi umat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s