Zakat Dalam Islam

Image Posted on

Zakat disyariatkan pada tahun II Hijriyah[1]. Ini menunjukkan bahwa zakat merupakan syariat yang sangat penting, karena itu ditempatkan sebagai salah satu pilar atau rukun Islam. Seseorang tidak sempurna iman dan Islamnya, apabila dia tidak membayar zakat, apabila dia termasuk orang yang mampu, artinya memiliki kekayaan lebih  dari satu nishab dan rentang waktu aman satu tahun (haul).

Ada pertanyaan menarik dikemukakan Ibn Rusyd al-Qurthuby (w. 595 H) dalam Bidāyah al-Mujtahid, “apakah zakat itu ibadah (mahdlah) seperti halnya shalat dan puasa ? Ataukah sebagai kewajiban sosial kebendaan (māliyah ijtimā’iyah) para hartawan (aghniya’) yang diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan (faqir, miskin, dan para mustahiq lainnya)”?[2]

Jika pertanyaan pertama dijawab, “bahwa zakat adalah ibadah mahdlah seperti shalat dan puasa”, maka anak-anak (yatim) tidak wajib zakat, karena ia belum mukallaf. Demikian juga harta-harta yang tidak ada ketentuan syari’ah yang mengaturnya, tidak wajib dizakati. Mengeluarkan zakat dalam harta yang tidak ada perintah (amar)nya secara eksplisit (manshush), maka berarti menambah-nambah ketentuan di luar nash, yang berarti bid’ah, dan bid’ah adalah dlalalah, dan setiap dlalalah adalah di neraka.

Hemat saya, zakat merupakan ibadah dan kewajiban sosial kebendaan (māliyah ijtimāiyah) bagi para aghniya’ (hartawan) setelah kekayaannya memenuhi batas minimal (nishāb) dan rentang waktu setahun (haul). Tujuannya untuk mewujudkan pemerataan keadilan dalam ekonomi. Sebagai salah satu aset – lembaga – ekonomi Islam, zakat merupakan instrument dan sumber dana potensial strategis bagi upaya membangun kesejahteraan ummat. Karena itu al-Qur’an memberi rambu secara jelas, baik cara menghimpun dari muzakki, maupun pendistribusiannya, agar zakat yang dihimpun secara optimal dan disalurkan kepada mustahiq (orang yang benar-benar berhak menerima zakat) secara benar dan tepat sasaran, agar mereka dapat diberdayakan ekonominya.

 ‘Umar bin al-Khaththāb mengatakan, zakat  disyari’atkan  untuk merubah mereka yang menerima zakat (mustahiq) menjadi pemberi/pembayar zakat (muzakki).[3] Ini hanya dapat diwujudkan apabila zakat tidak hanya dimaknai sebagai ibadah mahdlah yang tidak bisa dikembangkan, akan tetapi semua jenis usaha yang menghasilkan rizqi yang halal, apapun profesinya, setelah memenuhi syarat nishab dan haul, wajib dibayarkan zakatnya. Tujuannya, untuk mengurangi kesenjangan ekonomi dari yang fakir-miskin menjadi kaya (aghniya’). Karena itu pula, pendistribusiannya, tidak hanya dalam bentuk konsumtif untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek, tetapi perlu, dilakukan inovasi dalam bentuk pemberian modal/investasi (produktif). Dengan demikian mustahiq dapat memutar modal tersebut, sehingga diharpakan hasil keuntungannya dapat menjamin kebutuhan sehari-hari dan mengembangkannya dalam jangka panjang.

Dalam soal manajemen, pada awal Islam, ada pengalaman yang menarik bahwa zakat dikelola negara / pemerintah. Pendapat ini memang dapat diperdebatkan. Kalau Rasulullah saw. diposisikan sebagai Nabi dan Negarawan (the Prophet and Statesmen) maka keberadaan beliau selain sebagai pemimpin agama, adalah sebagai pemimpin negara dan pemerintahan. Praktik semacam ini juga diteruskan pada masa Khulafa’ al-Rasyidin. Pada masa Abu Bakr al-Shiddiq, warga yang enggan membayar zakat diperangi. Beliau merasa wajib untuk mengefektifkan penghimpunan zakat. Dalam pendistribusian zakat misalnya, ‘Umar bin al-Khattab ra. tidak memberikan bagian zakat kepada al-muallafatu qulūbuhum (pemula muslim) karena pertimbangan “politis”.[4]

Karena itu, perlu inovasi dan peningkatan manajemen pengelolaannya di dalam penghimpunan, pengelolaan, pendistribusian dan pertanggungjawaban (accountability) zakat, agar pesan syari’ah tentang zakat untuk merubah mustahiq menjadi muzakki dapat diwujudkan dalam satuan waktu tertentu sesuai yang direncanakan.

Fiqih Zakat dalam konteks Indonesia, tampaknya masih memerlukan perjuangan dan pembaharuan pemikiran. Karena tampaknya, pemahaman terhadap konsep zakat, masih  ada sebagian ulama yang memahami bahwa zakat adalah kewajiban normatif dan dimaknai sebagai ibadah mahdlah. Karena itu, pemahaman terhadap fiqh zakat yang mengakomodasi perkembangan keragaman profesi, menjadi suatu keniscayaan. Mengingat stratifikasi ekonomi dalam konteks zakat ini adalah aghniya’ dan fuqara’. Profesi dan mata pencaharian (ma’isyah) atau jalan mendapatkan rezqi adalah instrument untuk mendapatkan ekonomi. Maka siapapun dan apapun usahanya, apabila mendatangkan  penghasilan yang halal, dan sudah masuk dalam strata aghniya’, maka ia wajib mengeluarkan zakatnya.

Zakat secara harfiah artinya bersih, meningkat, dan berkah. Secara istilah, zakat adalah sebagian (kadar) harta dari harta yang memenuhi syarat minimal (nisab) dan rentang waktu satu tahun (haul) yang menjadi hak dan diberikan kepada mustahiq (penerima zakat).[5]

Menurut al-Syaukani yang dikutip Hasby ash-Shiddieqy, zakat adalah member suatu bagian dari harta yang sudah sampai satu nishab kepada orang fakir dan sebagainya, yang tidak bersifat dengan sesuatu halangan syara’ yang tidak membolehkan kita memberikan kepadanya.[6]

Membayar zakat hukumnya wajib, karena secara jelas diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Tujuannya, membantu mereka yang berhak dan merubah mustahiq menjadi muzakki. Zakat merupakan rukun atau pilar Islam.[7] Dasarnya, perintah Allah dalam al-Qur’an. Kata zakat dalam berbagai bentuk dan konteksnya disebut dalam al-Qur’an sebanyak 60 kali, 26 kali di antaranya disebut bersama-sama dengan salat.[8] Ini menunjukkan bahwa ibadah salat dilaksanakan idealnya dimanifestasikan ke dalam pembersihan diri dan harta untuk membantu mereka yang secara ekonomi mengalami kekurangan.

Yusuf al-Qardlāwy mengatakan, bahwa kedudukan zakat dalam Islam, adalah sebagai bagian dari mukjizat agama ini (Islam), dalil bahwa agama Islam benar-benar dari Allah. Islam adalah agama terakhir yang abadi, mendahului zaman, dan melampaui zaman. Maka tidak heran apabila zakat, yang Allah membebankan hak orang-orang fakir dan miskin pada harta umat dan di pundak Negara, merupakan prinsip dasar Islam yang ketiga.[9]

Di antara ayat-ayat al-Qur’an dan hadis yang menunjukkan kewajiban zakat tersebut adalah sebagai berikut  :

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!” setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. mereka berkata: “Ya Tuhan Kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada Kami sampai kepada beberapa waktu lagi?” Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun [QS. Al-Nisa’, 4:77].

QS. Al-Baqarah, 2:43 sebagai berikut:

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’ [QS. Al-Baqarah, 2:43].

 QS. Al-Baqarah, 2:277 sebagai berikut:

¨Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS. Al-Baqarah, 2:277).

QS. Fushshilat, 41:7 menegaskan bahwa orang-orang yang tidak menunaikan zakat, dikelompokkan ke dalam orang kafir di akhirat, sebagai berikut:

“(yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat” (QS. Fushshilat, 41:7).

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang lainnya, tetapi karena keterbatasan halaman dalam laporan ini, maka dua ayat tersebut dinyatakan cukup.

Sabda Nabi SAW :

 بني الإسلام على خمس شهادة  ان لااله الا الله وان محمدا رسول الله واقام الصلاة وايتاء الزكاة وحج البيت وصوم رمضان  متفق عليه[10]

“Islam dibangun atas lima (pilar), bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, menunaikan haji di Baitullah, dan puasa di bulan Ramadlan” (Riwayat al-Bukhāry dan Muslim).

 Cara Al-Qur’an dan Sunnah menegaskan bahwa shalat dan zakat bersama-sama selamanya, merupakan dalil betapa kuatnya hubungan antara shalat dan zakat. keislaman seseorang tidak akan sempurna kecuali dengan dua hal terebut.shalat adalah tiangnya Islam, barang siapa mengerjakannya sungguh dua menegakkan agama, dan barang siapa merusaknya maka berarti merusak agama. Dan zakat adalah jembatan tinggi Islam, barang siapa menitinya, maka akan selamat, dan barangsiapa melewatkannya dia akan hancur.[11] ‘Abdullāh ibn Mas’ūd menegaskan:

أمرتم بإقام الصلاة وإيتاء الزكاة ومن لم يزك فلا صــلاة له [12]

“Kalian diperintah untuk menegakkan shalat dan membayar zakat, dan barang siapa tidak membayar zakat, maka tidak (dianggap) shalat baginya”.

Jabir mengatakan, dari Zaid, bahwa shalat dan zakat diwajibkan bersama-sama, tidak dipisahkan di antara keduanya, dan ia mengutip:

“Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui” (QS. Al-Taubah, 9:11).

Seseorang tidak dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang beriman yang mendapatkan kebahagiaan, apabila tidak menunaikan zakat. QS. Al-Mu’minūn, 23: 1-4:

1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,

2. (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya,

3. dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,

4. dan orang-orang yang menunaikan zakat (QS. Al-Mu’minūn, 23:1-4).

Al-Kāsāny dalam al-Badāi’, sebagaimana dikutip Yūsuf al-Qardlāwy menyatakan bahwa secara filosofis, pertama, menunaikan zakat adalah persoalan menolong orang-orang yang lemah, menolong orang yang susah atau berduka cita, mengupayakan kemampuan orang-orang yang lemah, dan menguatkannya agar dapat memenuhi kewajiban mereka kepada Allah dalam bertauhid dan beribadah kepada Allah, dan perantara untuk memenuhi kewajiban adalah wajib adanya.

Kedua, zakat adalah membersihkan diri orang yang menunaikannya dari najis-najis dosa, menyucikan akhlak dengan akhlak yang dermawan (loma, jawa) dan mulia, meninggalkan kekikiran dan kebakhilan, karena jiwa pada umumnya terkungkung oleh kikir terhadap harta, maka dengan zakat membiasakan kelonggaran atau kedermawanan, rela memenuhi amanat, menyampaikan hak kepada yang berhak.

Ketiga, sesungguhnya Allah swt telah melimpahkan kenikmatan kepada orang-orang kaya, dan memberikan keutamaan kepada mereka dengan berbagai kenikmatan, harta yang berlimpah melebihi dari kebutuhan pokoknya, member kekhususan dengan harta dan mereka menikmatinya dalam kebahagiaan hidup, karena itu mensyukuri nikmat adalah kewajiban baik secara akal maupun syara’, dan mengeluarkan zakat adalah bagian dari ungkapan syukur nikmat, dan karena itu hukumnya wajib.[13]

Dalam pandangan Quraish Shihab[14], ada tiga dampak zakat, pertama, mengikis habis sifat-sifat kikir di dalam jiwa seseorang, serta melatihnya memiliki sifat-sifat dermawan, dan mengantarnya mensyukuri nikmat Allah, sehingga pada akhirnya ia dapat menyucikan diri dan mengembangkan kepribadiannya. Kedua, menciptakan ketenangan dan ketenteraman, bukan hanya kepada penerima, tetapi juga kepada pemberi zakat, infaq, dan shadaqah. Kedengkian dan iri hati dapat timbul dari mereka yang hidup dalam kemiskinan, pada saat mereka melihat seseorang yang berkecukupan apalagi berkelebihan tanpa mengulurkan tangan bantuan kepada mereka. Kedengkian tersebut dapat melahirkan permusuhan terbuka yang dapat mengakibatkan keresahan bagi pemilik harta, sehingga pada akhirnya menimbulkan ketegangan dan kecemasan. Ketiga, mengembangkan harta benda. Pengembangan ini dapat ditinjau dari dua sisi: (a). sisi spiritual, berdasar firman Allah, “Allah memusnahkan riba dan mengembangkan shadaqah atau zakat (QS. Al-Baqarah, 2:276), dan (b). sisi ekonomis-psikologis, yaitu ketenangan batin dari pemberi zakat, shadaqah dan infaq akan mengantarkannya berkonsentrasi dalam pemikiran dan usaha pengembangan harta.

Dengan demikian, kedudukan kewajiban zakat dalam syariat Islam, sangat penting dan strategis. Orang yang mengingkari dan enggan memenuhi kewajiban zakat, maka sungguh ia kafir, dan lepas dari Islam seperti lepasnya anak panah dari busurnya.[15]


[1] Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Pedoman Zakat, Semarang: Pustaka Rizki Putra, cet. X, 2002, hlm. 11.

[2] Ibn Rusyd, Bidāyah al-Mujtahid, Juz 1, Semarang: Usaha Keluarga, t.th, hlm. 178.

[3] Muhammad Rawas Qal’ah Jay, Mausū‘ah Fiqh ‘Umar bin al-Khaththāb, Beirut : Dār al-Nafāis, cet. 4, 1409 H/1989 M, hlm. 470-471.

[4] ‘Umar bin al-Khaththab berpendapat bahwa secara kuantitatif dan kualitatif peta kekuatan umat Islam cukup solid, maka para al-muallafatu qulūbuhum tidak perlu lagi diberi bagian zakat. Bahkan ‘Umar sempat mengutip ayat “man syā-a fal yu’min wa man syā-a fal yakfur” (barang siapa menghendaki maka berimanlah dan barang siapa menghendaki maka kufurlah” (QS. al-Kahf, 18:29) sebagai sikap dan langkah tegas. Putusan ini disampaikan sehubungan dengan dua orang Sahabat ‘Uyainah bin Hani dan Aqra’ bin Habis yang pada masa Rasulullah diberi zakat, kemudian kepada mereka ‘Umar berkata : “Rasulullah SAW dulu menganggap kalian muallaf (membujuk atau mengasihani) karena Islam masih lemah, dan Allah telah memenangkan Islam, maka pergilah dan berjihadlah kalian”. Lihat Muhammad Rawās Qal’ah Jy, Mausū‘ah Fiqh ‘Umar bin al-Khaththāb, Beirut : Dar al-Nafāis, cet. 4, 1409 H/1989 M, hlm. 470-471.

[5] ‘Abd al-Rahman al-Juzairy, Kitāb al-Fiqh ‘alā Madzāhib al-Arba’ah, juz 1, Beirut : Dār al-Fikr, 1411 H/1990 M, hlm. 590.

[6] TM.Hasby ash-Shiddieqy, Pedoman Zakat, Semarang: Pustaka Rizki Putra, cet. Ke-10, 2005, hlm. 5.  Lihat Nail al-Authār, juz 4, hlm. 170.

[7] Abi ‘Abdillāh al-Bukhāry, Shahīh al-Bukhāry, mjld 1, juz 2,  Beirut : Dār al-Fikr,  1401 H/1981 M, hlm. 108-109.

[8] Muhammad Fuād ‘Abd al-Bāqy, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfādh al-Qur’ān al-Karīm, Beirut : Dār al-Fikr, 1407 H/1987 M, hlm. 331-332.

[9] Yusūf Qardlāwy, Musykilah al-Faqr wa Kaifa ‘Alajahā al-Islām, Beirut: Muassasah al-Risālah, cet. 7, 1407 H/1987 M,  hlm. 69.

[10] Abī ‘Abdillāh al-Bukhāry, Op.cit., juz 1, hlm.  17-18.

[11]Yusūf Qardlāwy, Musykilah al-Faqr wa Kaifa ‘Alajahā al-Islām, Beirut: Muassasah al-Risālah, cet. 7, 1407 H/1987 M,  hlm. 70.

[12] Ibid., hlm. 70, dikutip dari Ibn Jarir al-Thabary, Tafsīr al-Thabary, juz 14, al-Ma’arif, hlm. 153.

[13]Yusuf al-Qardlāwy, Op. cit.,hlm. 73. Dikutip dari al-Kāsāny, Badāi’ al-Shanāi’, juz 2, hlm. 3.

[14] M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam kehidupan Masyarkat, Bandung: Mizan, cet I, Syawal 1412 H/Mei 1992 M, hlm. 326.

[15] Ibid., hlm. 74.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s