SEDEKAHAN DALAM TRADISI JAWA Oleh H. Ridin Sofwan

Image Posted on Updated on

Sudah bukan hal yang asing lagi bagi telinga orang Jawa-Islam jika mendengar orang bicara tentang sedekah, bahwa dalam pemahaman umum mereka akan memahaminya sebagai suatu pemberian berupa uang ataupun bahan makanan terhadap orang miskin, peminta-minta, atau juga orang yang sedang menderita musibah kematian. Namun akan kurang bisa memahami tatkala ungkapan sedekah  berkaitan dengan bumi, dengan laut ataupun orang yang sudah meninggal dunia, sehingga terdapat istilah sedekah bumi, sedekah laut, dan itu menjadi nama sebuah ritual keagamaan/religi yang sebenarnya juga tidak asing bagi sebagian orang Jawa yang sudah terbiasa melaksanakannya. Bagi mereka  yang tidak pernah melakukan, atau setidak-tidaknya belum pernah melihat secara langsung bagaimana pelaksanaan upacara-upacara sedekahan itu, barangkali akan menimbulkan berbagai pertanyaaan, seperti misalnya kenapa bumi atau laut disedekahi, dalam bentuk apa wujud sedekah itu, kepada siapa pula sedekah itu ditujukan, dan lain sebagainya.

          Upacara sedekahan semacam itu bagi orang Jawa dilandasi oleh sebuah keyakinan, baik berlandaskan pada pengaruh keyakinan sebelum Islam ataupun sesudah Islam. Karena itulah dalam tradisi sedekahan orang Jawa memiliki muatan religius/keagamaan, yaitu keagamaan orang Jawa yang terbentuk dari berbagai unsur keyakinan agama yang pernah dianut dalam sejarah kehidupan orang Jawa.

 

II.    PENGERTIAN SEDEKAH

        Kata sedekah, sebenarnya berasal dari bahasa Arab yakni shodaqah.                     Dalam Kamus Bahasa Arab Marbawi kata shodaqah itu diartikan sebagai pemberian dengan tujuan mendapat pahala (dari Tuhan). Dalam pengertian inilah sedekah yang dimaksudkan secara umum oleh masyarakat Jawa-Islam, yakni pemberian secara sukarela tanpa imbalan apapun sebagai bantuan  kepada siapapun, utamanya kepada mereka yang sedang dalam keadaan kekurangan, kesempitan ataupun menderita. Akan tetapi sebagaimana istilah-istilah Arab lainnya, ketika diucapkan dalam lidah Jawa sering menjadi berubah seperti misalnya, Hasan Ali menjadi Kasan Ngali, atau juga ikhlas menjadi iklas atau eklas, maka demikian juga kata shodaqah berubah menjadi sedekah. Bahkan akan ternyata pula dalam hal-hal tertentu tidak hanya sekedar perubahan atau perbedaan dalam pengucapan, tetapi  terdapat perbedaan dalam penerapan dan pemaknaan.

 

A. Sedekah dalam Pengertian Islam

         Seperti sudah di kemukakan bahwa arti shodaqah  dari bahasa Arab  adalah pemberian sukarela sebagai bantuan atas penderitaan seseorang, maka di dalam ayat-ayat al-Qur.an  maupun al-Hadits terdapat sejumlah istilah shodaqah. Pada umumnya penggunaan istilah shodaqah ini berkenaan dengan kewajiban mengeluarkan zakat, artinya bahwa zakat dalam beberapa ayat ataupun hadits disebut dengan shodaqah. Pada  Surat at-Taubah ayat 103 misalnya disebutkan : “khudz min amwaalihim shodaqatun tuthohhiruhum wa tuzakkiihim biha “  Ayat ini merupakan suruhan/perintah kepada kaum muslimin agar mengambil sebagian dari hartanya sebagai shodaqah (zakat) yang bertujuan untuk mensucikan diri mereka. Demikian juga dalam beberapa hadits Nabi terdapat perintah mengeluarkan zakat dengan istilah shodaqah, seperti ketika menyatakan tentang perlunya mengeluarkan zakat untuk kain-kain yang dijual dengan sabdanya : “fi al-bazzi shodaqotuhaa”, demikian juga ketika menyatakan tidak adanya zakat untuk sapi-sapi yang dipekerjakan : “laisa fi al-baqari al-‘awaamil shodaqatun”       Shodaqah  yang  dimaksudkan sebagai pemberian dalam bentuk zakat itu diatur secara syar’i mengenai syarat rukun dan tujuannya. Akan tetapi esensi dari zakat itu pada dasarnya adalah pemberian bantuan berupa harta kepada orang yang dalam keadaan kesulitan, utamanya para fakir miskin. Disebutkan mengenai orang yang perlu dibantu atau yang berhak menerima zakat sebagaimana dinyataakan dalam al-Qur’an Surat at-Taubah ayat 60 di antara delapan golongan (asnaf) adalah orang-orang fakir dan miskin.

            Karena sifatnya resmi, mengikuti aturan-aturan tertentu maka zakat ada yang menyebut sebagai shodaqah wajib bagi yang telah memenuhi syarat-syaratnya. Di luar zakat terdapat shodaqah dalam arti luas, yakni pemberian yang bertujuan kearah kebaikan (ihsan), termasuk di dalamnya apa yang disebut amal jariah, dan ada pula yang disebut infak. Digambarkan dalam salah satu ayat al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 261  bahwa  orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah akan mendapat balasan pahala 700 kali bahkan lebih dari nilai harta yang diinfakkan.

            Berdasarkan pengertian secara harfiyah istilah shodaqah maupun pengertian yang dipahami dari al-Qur’an dan al-Hadits maka yang dimaksud dengan sedekah dalam Islam adalah pemberian bantuan dari sebagian harta yang dimiliki kepada orang yang dalam keadaan kekurangan. Bantuan itu bisa dilakukan dalam bentuk zakat, yaitu amaliah syar’iah terstruktur dengan memperhatikan apa yang menjadi syarat dan rukunnya. Bagi mereka yang sudah memenuhi syarat menjadi pemberian yang sifatnya wajib. Sementara disisi lain pemberian bantuan secara bebas (sunah) tanpa terikat syarat rukun serta besar kecilnya nilai bantuan yang diberikan. Bantuan semacam ini sering disebut sebagai infaq, amal jariah yang pahalanya semata-mata dari Allah diyakini akan tetap mengalir jika pemberian itu dilandasi atas niat ikhlas. Memang ada pemahaman yang lebih luas lagi seperti senyuman, kata-kata yang baik dan lain-lain pemberian kepada isteripun sekalipun disebutkan sebagai shodaqah

 

  B. Sedekah dalam Pengertian Jawa

             Istilah yang dipakai dalam ungkapan Jawa yakni sedekah, sebagaimana telah dikemukakan jelas berasal  dari istilah Arab, shodaqah. Pengertiannya yang dipahami oleh orang Jawa terhadap sedekah itupun masih mengacu pada bentuk-bentuk pemberian. Hanya saja dalam konteks sedekah pada beberapa upacara tradisi Jawa motivasi atau tujuan serta cakupan dari sasaran pemberian  menjadi berubah atau mengalami transformasi. Motivasi atau tujuan bukan lagi sebagai bentuk bantuan, tetapi lebih cenderung merupakan persembahan, yang dengan persembahan itu diharapkan akan mendapat imbalan berupa “pahala” dari yang diberi persembahan. Cakupan pemberian sedekah tidak lagi tertuju kepada orang-orang yang dalam keadaan menderita kesusahan secara ekonomis, tetapi kepada sesuatu dzat yang dipercayai sebagai penjaga dusun, penjaga sawah, penjaga laut yang tidak kasat mata.


C. Antara Sedekah dan Sesaji

            Pemahaman sedekah dalam pengertian Jawa itu membawa kepada suatu istilah lain yang memiliki pengertian yang sama, yakni sesaji. Kata sesaji berasal dari kata saji artinya suguh, karena itu menyajikan makan berarti menyuguhkan makanan. Semua bahan makan yang disajikan dalam konteks profan maka hal itu akan menjadi sajian makanan biasa. Akan tetapi lain halnya apa bila makanan itu disebut sajen, maka hal itu sudah memiliki makna lain, yakni makna sacral. Sesaji dalam makna sakral ini merupakan tindakan religius orang Jawa yang sudah mengakar sejak zaman animisme, dinamisme atau lebih konkritnya pada agam Hindu. Dalam agama ini kegiatan sesaji hampir mewarnai berbagai kegiatan karena sesaji merupakan bagian dari upacara agama (yadnya) yang tidak bisa ditinggalkan, sebagai bentuk persembahan kepada para Dewa.

           Oleh karena itu dalam pemahaman Jawa seakan bahwa   istilah sedekah hanyalah semacam bungkus baru dari sesaji, artinya istilah yang dipakai adalah sedekah (Islami) sementara isi yang dikandung sesaji (non Islam).

 

III. BENTUK-BENTUK SEDEKAHAN DALAM TRADISI JAWA

             Sebagai tindakan religius orang Jawa dalam bentuk sedekahan, berikut ini dipaparkan sebagai contoh beberapa jenis pelaksanaan upacara sedekahan yang dilakukan orang Jawa di beberapa daerah, tentang sedekah bumi, sedekah laut dan sadranan.

 

Sedekah Bumi  

            Upacara sedekah bumi banyak dilakukan oleh masyarakat di berbagai desa. Tujuan dari upacara ini pada dasarnya dimaksudkan untuk memberikan persembahan kepada roh leluhur  yang telah meninggal dunia, dan ketika masih hidup diyakini oleh masyarakat desa yang bersangkutan sebagai cikal bakal pendiri desa. Roh leluhur itu biasa disebut dhanyang yang menempat di kuburan (pasareyan) khusus tempat pendiri desa itu dimakamkan, atau di kuburan umum bersama-sama warga masyarakat lainnya. Dhanyang diyakini yang menjaga dan mengawasi seluruh masyarakat desa, dhususn atau kampung.  Upacara sedekah bumi dibeberapa tempat disebut juga dengan upacara baritan atau upacara bersih desa, bersih dhusun karena memang terdapat kegiatan membersihkan jalan dan lingkungan (kerig), terutama  kebersihan makam kuburan leluhur. Pengertian kebersihan dalam hal ini  dalam arti tidak saja bersih secara pisik tetapi bersih dari gangguan roh jahat.

           Salah satu contoh cara penyelenggaraan upacara sedekah bumi diantaranya  sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat desa Bledug Kuwu kabupaten Grobogan. Upacara sedekah bumi di desa itu biasanya dilakukan pada awal tahun, akhir tahun atau pada saat panen raya. Sebelum pelaksanaan upacara dilakukan terlebih dahulu dilakukan kegiatan membersihkan tempat  yang dianggap sakral  oleh masyarakat, tempat penyelenggaraan upacara. Sebagai pemimpin upacara adalah tokoh masyarakat yang dituakan. Ubarampai dari upacara sedekah bumi itu berupa aneka macam makanan, seperti nasi uduk dengan ditaburi parutan kelapa, ingkung ayam, aneka jajan pasar serta hasil panen. Segala jenis makanan ini dimaksudkan sebagai sesajen, dan sebelum dibawa ke tempat upacara diarak lebih dahulu keliling desa disertai dengan gamelan dan barongan. Pada akhirnya di tempat upacara, sebelum sesajen itu disantap bersama di beri do’a lebih dahulu oleh pemimpin upacara (modin), yang intinya mengharap keselamatan dan dilimpahkan banyak rejeki. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, jika upacara sedekah bumi tidak dijalankan akan terjadi bencana, seperti gagal panen dan banyak warga yang sakit-sakitan, dan ini konon pernah terjadi.

               Adapun pembiayaan acara sedekah bumi ini dibebankan secara bersama-sama kepada seluruh kepala keluarga dengan cara penarikan sumbangan sesuai dengan tingkat kemampuan ekonomi setiap warga. Hasil dari sumbangan itu di samping digunakan membiayai pelaksanaan ritual, juga untuk biaya hiburan seperti mendatangkan kethoprak, tayuban dan lain-lain. Biasanya pelaksanaan tayuban dimulai sekitar jam 7 sampai dengan jam 10 malam,  setelah itu dilanjutkan dengan kethoprak sampai pagi.

                Agak berbeda upacara bersih desa yang disebut nyadran di desa Mangunjiwan kabupaten Demak. Upacara bersih desa di desa ini dilaksanakan pada setiap bulan Apit. Inti pelaksanaan upacara adalah selamatan yang disebut selamatan nyadran. Selamatan biasanya diadakan disekitar atau dilingkungan kuburan. Upacara diawali dengan penyembelihan kambing sebanyak dua atau tiga ekor kambing yang tidak cacat. Daging kambing kemudian dimasak, tetapi kepala kambing tidak ikut diolah. Kepala-kepala kamping tersebut dibawa dan diletakkan  disamping kuburan yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat. Setelah ashar orang-orang kampung secara bersama-sama pergi ketempat kuburan keramat itu. Daging kambing yang sudah dimasak di bawa serta. Masing-masing warga membawa satu bakul nasi dan panci berisi  sayuran dan lauk pauk. Sayuran itu harus beraneka macam dan berwarna warni terdiri atas sembilan macam sayuran, dan harus disertai dengan ketan salak (ketan berwarna cokelat). Ketika orang-orang kampung sudah berkumpul, maka acara dimulai dengan pembacaan tahlil bersama yang dipimpin oleh modin setempat. Setelah tahlil selesai mereka mulai membagi-bagikan makanan yang di bawa dari rumah. Akann tetapi sebelum daging kambing dibagikan, terlebih dahulu modin mengambil nasi dan daging kambing, masing-masing satu piring dan kemudian diletakkan di atas makam keramat  itu. Bersama-sama dengan pembagian daging kambing, warga kampung saling tukar menukar nasi ataupun lauk pauk yang mereka bawa dari rumah.       Tujuan dari semua kegiatan itu agar mereka terhindar dari penyakit, malapetaka dan tanaman padi yang ditanam terbebas dari serangan hama padi. Acara dikuburan sore hari selesai setelah makan bersama, dan kemudian pada malam harinya mereka mengadakan lek-lekan, dengan membaca surat Yasin. Pada waktu tengah malam mereka ikut menyaksikan modin membakar kemenyan dan menaburkan bunga-bunga di sekitar makam keramat. Baru setelah itu acara dilanjutkan dengan pentas gamelan yang dilaksanakan di halaman kelurahan. Yang ditampilkan adalah lagu-lagu zaman dulu yang bernuansa Islam, seperti “ler iler tandure wong sumilir”. Pentas tabuh gamelan itu berlangsung sampai pagi menjelang subuh. Pada saat itu pak lurah dan bu lurah serta perangkat desa diwajibkan memakai pakaian kejawen. (blangkon dan jarit).    Setelah mereka shalat subuh berjamaah, kira-kira jam 6 pagi seluruh warga, tua  remaja, melaksanakan bersih desa dimulai dari lingkungan rumah mereka masing-masing sampai ke wilayah pekuburan, dengan tujuan agar mereka terhindar dari malapetaka dan bencana.

 

Sedekah Laut

            Di berbagai daerah, terutama bagi masyarakat yang bertempat tinggal di tepi pantai sebagai masyarakat nelayan, mereka juga melakukan  upacara sedekahan. Karena sedekahan dilakukan di laut, maka disebut upacara sedekah laut. Bagaimana cara pelaksanaan sedekah laut itu, berikut ini  beberapa contoh upacara yang diselenggarakan  oleh masyarakat nelayan  desa Sendangsikucing di kabupaten Kendal, kemudian di Rembang dan Cilacap..

           Upacara sedekah laut  di desa Sendangsikucing yang disebut juga oleh masyarakat setempat sebagai upacara nyandran pada intinya merupakan sesaji persembahan dua kepala kerbau yang menjadi unsur utama sesaji, yang dilarung ke tengah laut  oleh masyarakat nelayan di desa itu, dengan tujuan untuk minta berkah dan keselamatan dari sang danyang penunggu pantai laut utara. Pelarungan dilakukan dengan mengarak kepala kerbau di sebuah perahu, diiringi oleh sejumlah peserta upacara dalam perahu-perahu yang dihias sedemikian rupa dan berisi bahan-bahan sesaji lainnya. Sampai di tengah laut kepala-kepala kerbau diceburkan ke dalam air laut. Untuk itu maka pada hari yang sudah ditentukan, pagi hari kira-kira jam 6.00 sehabis shalat subuh sudah dimulai penyembelihan dua ekor kerbau jantan atau betina. Kepala kerbau yang dipotong langsung diletakkan di sebuah tempat dan ditutupi kain mori berwarna putih. Sedangkan daging-daging  kerbau dimasak disalah satu rumah nelayan untuk dijadikan hidangan selamatan tasyakuran di malam hari setelah upacara pelarungan kepala kerbau selesai. Kerbau ini diperoleh dengan dana hasil iuran bersama masyarakat nelayan di desa tersebut.

           Adapun sebagai petugas pemimpin upacara adalah seorang pawang atau dukun yang juga bertugas menyampaikan sesaji kepada sang danyang laut. Sang pawang memakai pakaian sertba hitam dan memakai kain batik sebagai ikat kepala.

              Selain kepala kerbau, ada juga sesaji lainnya yang disiapkan berupa bahan makanan yang diletakkan pada tampah-tampah yang  dibawa dalam setiap perahu yang ikut pada upacara itu. Makanan itu berupa nasi kluban, gudangan megono yang ditaburi kerupuk atau gereh gandum goreng yang dihias sedemikian rupa. Kemudian juga ada makanan kecil  berupa aneka ragam jajanan pasar seperti kerupuk, jenang, gemblong dan lain-lain. Makanan itu setelah di beri do’a  akan disantap oleh para peserta upacara dalam perjalanan menuju tengah laut. Selain makanan sebagai kelengkapan dipersiapkan juga kembang berwarna warni, janur serta kemenyan yang dibakar dan diletakkan ditempat semacam pot kecil. Kembang-kembang dan nasi kluban masing-masing dibungkus dengan daun pisang, ditata sedemkian rupa peletakkannya secara berdampingan.  Kemenyan-kemenyan yang dibakar diletakkan pada perahu sang pawang dan juga setiap perahu pengawal sang pawang. 

            Perahu-perahu  peserta upacara  dihiasi dengan bendera yang berwarna warni sehingga kelihatan indah. Para pengunjung dapat naik perahu-perahu tersebut tanpa dipungut biaya, karena itu  merupakan bentuk tasyakuran para nelayan. Perahu-perahu yang sudah disiapkan dengan segala bahan makanan dan sesaji itu setelah ada aba-aba dari sang pawang, mereka  berangkat bersama-sama pada sekira jam 8.30 pagi. Semua perahu milik nelayan harus ikut serta, kecuali perahu-perahu yang rusak. Konon menurut cerita rakyat setempat jika sampai ada perahu yang tidak berangkat nyadran maka suatu ketika akan mengalami kecelakaan atau tersesat di laut. Mitos itu berlaku secara turun temurun sehingga para nelayan merasa takut untuk tidak ikut serta dalam acara itu. Ketika perahu-perahu telah menempuh separoh perjalanan ketengah laut, sang pawang berdo’a membaca mantera dan setelah itu para peserta upacara mulai menyantap makanan yang mereka bawa pada masing-masing perahu. Makanan yang tersisa harus diceburkan ke laut sehingga tidak ada sisa makanan sama sekali, dengan maksud agar sisa makanan itu menjadi santapan para pengikut danyang laut. Bersamaan dengan penceburan sisa-sisa makanan itu ditaburkan pula bunga-bunga yang dibawa serta. Selanjutnya tatkala perahu sudah berada ditengah laut, sekali lagi sang pawang membaca do’a mantra sebagai puji-pujian dan mohon perlindungan danyang laut, diteruskan dengan penaburan kembang-kembang dan diikuti dengan penceburan dua kepala kerbau yang dibungkus  kain mori putih.

             Setelah kedua kepala kerbau dipersembahkan kepada danyang laut, maka usai sudah upacara sesaji, perahu kembali ke pantai dan para peserta pulang ke rumah masing-masing. Pada malam hari setelah itu diadakan selamatan tasyakuran dirumah salah seorang nelayan dengan hidangan daging kerbau yang disembelih di pagi hari. Acara selamatan selesai, maka selelsai pula seluruh rangkaian upacara sedekah laut di desa itu.

             Upacara sedekah laut di salah satu desa di Rembang juga dilakukan sebagai rasa syukur atas hasil para nelayan yang telah diperoleh dan dimaksudkan agar para nelayan dalam berlayar mencari ikan tidak mengalami kesulitan ataupun kecelakaan. Tiga hari sebelum upacara pada hari yang sudah ditetapkan, warga masyarakat dipesisir mempersiapkan berbagai macam makanan khas seperti kue cucur, naga sari, kembang gula dan lain-lain. Kue-kue itu dipersiapkan sebagai hidangan bagi warga masyarakat desa  tersebut, terutama sanak keluarga dan para tetangga yang pada hari-hari itu saling berkunjung layaknya hari lebaran. Mereka saling bertandang dan mencicipi makanan khas itu. Pada malam sebelum hari upacara mereka membuat sesaji yang terdiri atas kembang tujuh rupa, kue-kue, nasi tumpeng dan lain-lain. Sesaji itu ditempatkan di sebuah anyaman, terbuat dari daun kelapa. Keesokan hari, di pagi hari semua masyarakat pesisir desa berkumpul dipinggir laut, dan pada saat itulah diadakan upacara penghanyutan sesaji-sesaji yang telah dipersiapkan pada malam hari sebelumnya.

              Lain lagi upacara sedekah laut yang dilakukan oleh para nelayan Cilacap. Upacara ini dilakukan untuk masa awal musim penangkapan ikan setelah masa paceklik, sehingga tangkapan ikan sangat banyak. Karena itu upacara ritual sedekah laut ini dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur para nelayan kepada “penguasa” laut kidul karena nelayan telah diberi rejeki barupa hasil tangkapan ikan yang melimpah.  Biasanya upacara sedekah laut para nelayan Cilacap ini dilaksanakan pada hari Jum’at Kliwon bulan Suro. Bahan ubarampai sedekahan atau sesaji telah dipersiapkan terlebih dahulu berupa kepala kerbau atau kepala kambing dan aneka jajanan pasar yang diletakkan dalam tempat khusus yang disebut jolen. Ada beberapa jolen yang disiapkan oleh kelompok-kelompok nelayan. Jolen-jolen itulah pada hari yang sudah ditentukan  akan dikirab dan dan kemudian dilarung ke tengah laut. Sehari sebelum kirab jolen, para tokoh nelayan mengadakan ziarah ke pulau Majethi, sebuah pulau yang merupakan tempat tumbuhnya kembang sakti, yakni kembang Wijayakusuma. Sedangkan pada malam Jum’at Kliwon diadakan tasyakuran di pendopo Wijayakusuma yang diikuti oleh para nelayan. Pada acara malam tasyakuran itu setiap kelompok nelayan membawa nasi tumpeng.  

               Prosesi upacara kirab dan pelarungan jolen diawali dengan penyerahan jolen Tunggul  dari Tumenggung Duta Pangarsa. Selanjutnya jolen Tunggul dibawa ke pantai  Teluk Penyu dan dikirab seluruh nelayan dari tujuh kelompok nelayan yang ada di Cilacap. Penyerahan jolen Tunggul disaksikan bupati Cilacap dan seluruh pejabat dari dinas instansi terkait yang menggunakan pakaian adat nelayan lengkap dengan ikat kepala warna hitam. Selanjutnya jolen Tunggul beserta jolen-jolen lainnya  yang dibawa masing-masing kelompok dinaikkan ke atas perahu yang dihias dengan berbagai hiasan janur kuning. Jolen-jolen tersebut kemudian dibawa ketengah laut kidul dan dilarung disekitar pulau Majethi, tepatnya di teluk Karang Bandung, pulau Nusakambangan.

 Sandranan

           Kata sadran menurut kamus bahasa Jawa, Baoesastra Djawa adalah krama ngoko dari kata ruwah, dan ruwah menjadi satu nama bulan menurut kalender Jawa yakni bulan sebelum bulan puasa (Ramadlan). Dalam kalender Islam bulan Ruwah disebut Sa’ban. Dari kata sadran itulah muncul kata nyadran atau nyadranan, dan yang dimaksud adalah slametan atau sesaji,  untuk para leluhur dikuburan atau juga tempat keramat sekaligus membersihkan tempat keramat tersebut serta mengirim kembang buat arwah leluhur yang biasa dilakukan pada bulan Ruwah. Pengertian tersebut memberikan pemahaman  kenapa sedekah laut maupun sedekah bumi disebut pula sebagai upacara nyadran, karena pada upacara sedekah bumi maupun sedekah laut intinya sesaji untuk sesuatu dan ditempat yang dianggap keramat. Meski demikian nyadran tidak selalu dilaksanakan pada bulan Ruwah. Salah satu contoh yang dipaparkan disini adalah upacara nyadran di makam gunung Kalong, desa Susukan kabupaten Semarang. Upacara dilakukan untuk berziarah ke makam Ki Mandung dan para murid-muridnya yang dianggap sebagai cikal bakal pendiri desa Susukan. Upacara ini digelar pada tanggal 21 Suro, bertepatan dengan hari Jum’at Wage atau Jum’at Kliwon. Pada malam hari Jum’at itu di makam Ki Mandung di gunung Kalong dilakukan tahlilan dan diteruskan dengan lek-lekan. Sementara itu untuk keperluan santap makan para peziarah esok hari dilakukan penyembelihan beberapa ekor kambing. Keesokan harinya para peziarah dari penduduk desa Susukan, laki-laki maupun perempuan berduyun-duyun datang ke makam Ki Mandung. Mereka datang sambil membawa beraneka macam makanan, terkecuali tempe. Menurut cerita kenapa masyarakat tidak pada membawa tempe, konon salah seorang murid Ki Mandung yang bernama Syeh Hasan Husen suatu hari berjalan menyusuri sungai sampai pada suatu tempat melihat perempuan-perempuan yang sedang menginjak-injak kedele yang akan disiapkan untuk dibuat tempe. Dia tidak suka dengan cara membuat makanan seperti itu dan karenanya dia tidak mau mengkonsumsi tempe.

            Adapun upacara sadranan diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci al-Qur’an, kemudian pengumuman tentang pendapatan shodaqah yang berhasil dikumpulkan dari peziarah, dilanjutkan dengan penyampaian kata sambutan dari penyelenggara dan pihak-pihak terkait, diakhiri dengan pembacaan do’a tahlil. Selesai tahlilan dilanjutkan dengan acara makan bersama. Di samping menyantap daging kambing-kambing yang telah disiapkan oleh penyelenggara, para peziarah makan bersama dengan saling tukar menukar makanan yang mereka bawa dari rumah. Pada akhirnya sebelum mereka pulang kembali ke rumah masing-masing mereka mampir  terlebih dahulu ke makam Ki Mandung yang sudah tertutup dengan taburan bunga. Mereka mengais untuk mendapatkan sesuatu yang ada dibawah timbunan bunga untuk di bawa pulang, sebagai sesuatu yang diyakini akan membawa berkah (Siaran Cakra TV, 23 Juli 2007 jam 19.00-19.30) 

 

IV.        ULASAN

            Jika diperhatikan contoh-contoh kasus sedekahan, pertama terlihat bahwa penggunaan istilah upacara sedekahan itu dibeberapa tempat digunakan dengan sebutan upacara nyadran baik untuk upacara sedekah bumi ataupun upacara sedekah laut. Sementara upacara nyadran atau sadranan secara lebih khusus sesungguhnya lebih ditekankan pada upacara ziarah kubur. Barangkali karena semua upacara itu mengandung unsur ziarah, atau menghormat leluhur keramat dengan cara sesaji maka disebut juga nyadran untuk kasus sedekah bumi ataupun sedekah laut. Yang kedua terlihat bahwa dari upacara-upacara itu memang terdapat sesuatu yang diberikan, sesuatu yang dipersembahkan atau yang disajikan dalam bentuk sajian atu sajen. Sudah barang tentu bahwa dalam hal ini terdapat sesuatu yang dianggap sebagai sasaran sedekah, sesuatu yag dianggap sebagai penerima persembahan atau penerima sesaji. Hampir pada semua kasus upacara tersebut menempatkan roh leluhur atau dhanyang baik dhanyang desa maupun dhanyang laut yang dimaksudkan sebagai sasaran sedekah atau sesaji. Sementara benda utama yang disedekahkan hampir  sama, yaitu kepala kerbau atau kepala kambing. Bahan lain yang berbeda satu dengan lainnya nampak sebagai pelengkap. Motivasi atau tujuan masing-masing upacara sedekahan itu juga hampir sama, yaitu suatu bentuk syukuran atas rejeki yang telah diperoleh dan memohon keselamatan, perlindungan atau menghindari murka dari danyang sang penunggu desa maupun laut. Kemudian persamaan lain dalam rangkain upacara-upacara itu adalah adanya acara tasyakuran atau selamatan dengan pembacaan tahlil, surat yasin atau do’a-do’a yang dibacakan oleh petugas agama Islam (modin).

            Dengan memperhatikan unsur-unsur tersebut maka tampaklah bahwa terdapat pergeseran pengertian shadaqah dengan sedekah yang diterapkan dalam tradisi budaya Jawa-Islam. Shadaqoh bukan dalam pengertian memberikan infaq dari sebagian harta untuk mereka yang membutuhkan sebagai suatu bentuk ibadah kepada Allah, dan hanya mengharap pahala/ridha dari Allah, melainkan merupakan persembahan kepada Sesuatu Yang Gaib (roh leluhur, danyang, dewa) selain Allah. Oleh karena itu perilaku sedekahan itu secara teologis masih diwarnai sisa-sisa kepercayaan pra Islam seperti animisme, dinamisame ataupun kepercayaan Hindu meski yang melakukan orang Islam. Pada kepercayaan animisme dan kepercayaan Hindu setiap benda, tempat apa saja diyakini terdapat roh penunggunya. Roh penunggu itu bisa disebut sebagai makhluk halus, roh leluhur atau dewa, biasa disebut pula sing bahureksa. Memang terdapat unsur-unsur Islami seperti pembacaan do’a, pembacaan surat Yasin atau juga pembacaan tahlil, namun karena hal itu bercampur dengan unsur-unsur non Islam  maka tampaklah bahwa upacara-upacara itu cenderung bersifat sinkretik. Selanjutnya jika dilihat dari penggunaan istilah nyadran yang diartikan sebagai ziarah, nampak pula bahwa muatan teologis masing-masing upacara tersebut juga berbeda. Di satu sisi nyadran dimaksudkan sebagai ziarah kubur dalam upaya mendo’akan arwah orang yang sudah meninggal dunia, tetapi disisi lain nyadran dipakai dalam upaya ngalap berkah dari roh leluhur, atau barang apa saja yang dianggap sebagai barang keramat berkhasiat peninggalan roh leluhur. Lebih dari itu nyadran diartikan sebagai ziarah ke laut untuk memohon pertolongan dan perlindungan kepada sang penjaga laut.

 

V. KESIMPULAN

Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan :

  1. Istilah sedekah dalam ungkapan bahasa Jawa berasal dari istilah Islam (bahasa Arab) shodaqah yang berarti memberikan sesuatu karena semata mengharap pahala Allah.
  2. Muatan teologis dari perilaku shadaqoh dalam Islam, bahwa shadaqoh adalah suatu bentuk ibadah sosial  sebagai perwujudan ketaatan dan penyerahan diri kepada Allah.
  3. Sedekah dalam ungkapan Jawa telah mengalami pergeseran dari makna asalnya meski masih dalam lingkup pengertian “memberi”, tetapi pemberian dalam konteks sedekah bumi atau sedekah laut lebih diartikan sebagai  persembahan dan sesaji.
  4. Muatan teologis dari perilaku sedekah dalam berbagai upacara sedekahan Jawa lebih cenderung sebagai persembahan kepada roh leluhur, sebagai wujud tanda terima kasih serta menetralisisr akibat buruk/bencana yang disebabkan oleh kemurkaannya.        
  5. Semua bentuk upacara sedekahan itu merupakan perwujudan dari kesadaran beragama/religi yang ada pada setiap diri manusia, bahwa dirinya sebagai makhluk yang kecil, makhluk yang kemampuannya sangat terbatas di tengah-tengah alam raya dimana ia hidup dan senantiasa mengharap keselamatan. Ia mengharap pertolongan dan perlindungan pada Dzat yang diyakini akan menentukan nasib dalam kehidupan dan dalam bermatapencaharian.

 

 

SUMBER BACAAN :

 Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa, PN. Balai Pustaka, Jakarta, 1984

 

—————— , Beberapa Pokok Antropologi Sosial, Penerbit PT Dian Rakyat, 1980

 

H. Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, Penerbit PT Sinar Baru Algensindo, Bandung, 1993

 

W.J.S. Poerwadarminta, Baoesastra Djawa,  Penerbit B. Wolters Uitgevers-Maatschappy N.V, Groningen, Batavia, 1939

 

Bahan-bahan tugas Karya Tulis  Mahasiswa Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo  dalam matakuliah Antropogi Agama dan Fakultas Dakwah  IAIN Walisongo dalam matakuliah  Islam dan Kebudyaan Jawa, tahun 2000 – 2007

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s