Tafsir al-Bahr al-Muhith

Image Posted on

Tentang Penulis

Nama lengkap Abu Hayyan adalah Atsir al-Din Muhammad ibn Yusuf ibn Ali ibn Yusuf ibn Hayyan al-Andalusi al-Gharnathi al-Jayyani, lahir di Andalus tahun 654 H. Ia menuntut ilmu dari ulama`-ulama` terkemuka di sana. Kemudian ia berkelana ke Iskandariyyah Mesir untuk mempelajari qira`at kepada sejumlah ulama` di sana.

Ia seorang imam yang masyhur dalam ilmu-ilmu bahasa Arab. Ini tampak di dalam kitab tafsirnya. Ia juga termasuk pemuka ulama` di bidang tafsir, hadis dan biografi.

Mulanya ia seorang dhahiri, kemudian pindah ke madzhab al-Syafi’i. Ia wafat tahun 745 H,[1] dengan tetap mengikuti madzhab salaf. Ia memiliki banyak karya. Yang terpenting adalah tafsirnya al-Bahr al-Muhith. Ia juga memiliki kitab Gharib al-Qur`an, Syarh al-Tashil, Nihayah al-I’rab dan Khulashah al-Bayan.

Tafsir al-Bahr al-Muhith dan Metodenya

Kitab tafsir ini terdiri dari delapan jilid besar dan dicetak beberapa kali. Metodenya bisa diringkaskan sebagai berikut:

1- Memberikan perhatian pada uraian bahasa, I’rab, masalah-masalah nahwu dan berpanjang lebar dalam menguraikan masalah perbedaan di kalangan ahli nahwu. Bila ada kata yang memiliki lebih dari satu makna, ia menjelaskannya di awal tempat dimana kata itu berada.

2- Menyebutkan qira`at-qira`at yang berlaku bagi suatu ayat, menyebutkan segi-segi nahwu dan I’rabnya dan membedakan antara qira`ah yang mutawatir dan yang yang syadz.

3- Memperhatikan aspek-aspek balaghah (bayan, badi’ dan ma’ani).

4- Menyebutkan asbab nuzul, nasikh dan mansukh, hubungan antara suatu ayat dengan ayat sebelum dan sesudahnya.

5- Menyebutkan hukum-hukum fiqih ketika menafsirkan ayat-ayat hukum dan menuturkan pendapat para ahli fiqih, kemudian menutup ayat dengan menguraikan makna umum yang ia pilih.

6- Menghindari pendapat kaum sufi dan pendapat kaum atheis (Kaum Batiniah dan yang sejenis). Hal ini telah dikemukakannya di bagian awal.

7- Abu Hayyan banyak mengutip dari Tafsir Ibn Athiyyah dan Tafsir al-Zamakhsyari dan mengomentari pendapat keduanya dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan nahwu. Ia sangat dialektis dalam mengomentari al-Zamakhsyari, khususnya dalam menyanggah pendapat-pendapatnya yang berbau Mu’tazilah. Adapun dari segi balaghah, ia sangat hormat dan mengakui kemahiran dan kekuatan bayannya.

Abu Hayyan rahimahullah bertumpu, dalam sebagian besar riwayatnya, kepada pendapat gurunya (Jamaluddin Muhammad al-Maqdisi yang dikenal dengan Ibn al-Naqib), penulis kitab al-Tahrir wa al-Tahbir Li Aqwal A`immah al-Tafsir, yang disebutnya sebagai kitab terbesar yang pernah ditulis dalam ilmu tafsir, yakni mencapai hampir seratus jilid.


[1] Lihat Nafh al-Thayyib karya al-Muqri, III/289 dan al-Durr al-Kaminah, IV/302-310.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s