Posted on Updated on

EPISTEM BURHANI: Pergumulannya dengan Epistem Bayani dan Irfani

Oleh Mohammad Nor Ichwan

Pendahuluan

Muhammad Abed al-Jabiri dalam bukunya Bunyatul ‘aql al’Arabiy mengemukakan bahwa term al-burhani dalam bahasa Arab berarti al-hujjah al-fashilah al-bayyinah (bukti pemutus yang jelas). Sedangkan dalam bahasa Inggris istilah ini sama artinya dengan demonstration, yang berasal dari bahasa latin demonstratio yang berarti isyarat, sifat, keterangan dan sesuatu yang tampak.[1]

Secara khusus term al-burhani dapat berarti pemikiran untuk menentukan kebenaran suatu statemen dengan cara penentuan hasil setelah diperbandingkan dengan statemen lain hasil pemikiran yang benar dan nyata. Sedangkan secara universal term al-burhan dapat berarti pemikiran untuk menentukan tentang kebenaran pernyataan atau statemen.

Namun dalam bukunya, al-Bunyah al-Jabiri tidak memakai kedua istilah tersebut. Tetapi ia lebih memaknai istilah al-burhani sebagai sintesa antara dua epistem lainnya, yaitu al-bayani dan al-irfani.[2]

Oleh karena itu, jika hendak membuat batasan term al-burhan, maka harus diperbandingkan dengan kedua term lainnya, yaitu al-bayani dan al-irfani. Jika epistem al-bayani dilakukan dengan melalui nash, ijma’, dan ijtihad sebagai sumber pokok bagi pemahaman aqidah islamiyah, dan epistem al-irfani dalam memasuki wilayah keesaan Allah dengan jalan menyingkap tabir yang menyelimuti pikiran dan hati manusia, maka al-burhan merupakan kekuatan alami manusia dalam memahami keesaan Allah itu dengan panca indera dan hasil percobaannya dalam mencapai pengetahuan adanya alam yang nampak sebagai ciptaannya.[3] Atau dengan kata lain bahwa epistimologi burhani bersumber pada relaitas atau al-waqi’, baik realitas alam, sosial, humanitis maupun keagamaan. Ilmu-ilmu yang mencul dari tradisi burhani disebut sebagai al-ilm al-husuli, yaitu ilmu yang dikonsep, disusun dan disistematisasikan lewat premis-premis logika atau al-manthiq, dan bukannya lewat otoritas teks atau otoritas intuisi.

Cara Kerja Nalar Epistemologi Burhani

Mungkin banyak orang mengira bahwa tradisi burhani muncul dari pemikiran Aristoteles. Sehingga mereka mengadopsinya kedalam kebudayaan Arab Islam dan memfungsikannya sebagai suatu keyakinan, metoda dan pemikiran (pendapat). Sesungguhnya Aristoteles tidak menemukan al-burhan itu suatu yang baru dari tidak ada menjadi ada tetapi al-burhan itu sebetulnya hasil pemikiran dari filsafat dan pemikiran ilmiyah Yunani sejak tiga abad sebelum Aristoteles. bahkan ada yang mengatakan bahwa al-burhan sudah muncul sejak guru Aristoteles yaitu Plato.

Memang orang sekarang tidak memahami bahwa al-burhan dalam budaya Arab Islam berasal dari Yunani, padahal sebetulnya ada hubungannya dengan Aristoteles, demikian apa yang dikemukakan oleh al Jabiri. Yang jelas metode yang dikemukakan oleh Aristoteles adalah mantiq, hanya saja Aristoteles tidak menggunakan istilah mantiq (logika) itu, tetapi dengan nama atau tahlil maksudnya menguraikan dari dasar-dasar dan asalnya yang kalau dikaji kebelakang sebetulnya metode itu sama dengan metode yang disebut mantiq (logika) yang didalamnya ada pengertian al-burhan yang merupakan bagian daripada silogisme yang disebut al-qiyasul Jami’ yang artinya qiyas yang mencakup, sedang silogisme yang luas terdiri dari unsur-unsur yang tersusun dari subyek dan predikat yang dalam bahasa Arab disebut mubtada dan khabar atau fi’il dan fa’il atau dalam jumlah khabariyah dan jumlah fi’liyah.[4]

Inilah unsur-unsur faham (ide) dan informasi yang disampaikan oleh pemikiran yang diucapkan, sehingga ucapan hasil pemikiran bukan sekedar lafadz tertentu yang terjadi atau kedudukan sesuatu. Dan faham ini ada sebelum tertuang dalam pemikiran. Oleh Aristoteles pernyataan itu mempunyai satu jauhar dan sembilan A’radl.

Jauhar itu adakalanya pokok yang menunjukan pada sebagian dari wujud kenyataan seperti orang atau barang dan juga wujud mafhum pengertian yang menunjukan sebagian kelompok daripada satuan satuan seperti manusia atau hewan. Manusia bisa berarti seseorang seperti zaid atau ahmad. Sedangkan lainnya bisa memberikan keterangan tentang seseorang bernama zaid tadi dengan ketentuannya. Ia tinggi (kualitas), ia putih (sifat), ia seorang anak (hubungan dengan yang lain), ia berada di rumah (tempat), kemarin ia ada (waktu), ia sedang tidur (perbuatan), dan apa yang dimiliki dan apa yang di perbuat serta apa yang terjadi pada zaid. Kesemuanya itu berujud suatu ungkapan yang berupa pengertian atau konsep. Yang konsep itu bisa terdiri dari beberapa unsur yang membuat suatu ketentuan baru seperti zaid itu pandai, yang terdiri dari dua mafhum yang satu berhubungan dengan yang lain.

Ringkasnya oleh Al jabiri, dikemukakan bahwa ilmu itu ungkapan dari pikiran yang umum yang mencakup keseluruhan (Laa’ilma illa bil kuliyyi) Seperti pengertian burung adalah hewan yang dapat terbang, tidak berbeda jenis burung satu dengan lainya dapat terbang, hanya saja ada yang terbangnya cepat, ada pula yang lambat, ada yang tinggi ada yang rendah.[5]

Dalam bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa arab ”Al-Ibarat”, diantara catatanya, ungkapan (ibarat) yang dapat menghasilkan pengetahuan yang dapat dinilai benar atau salah ialah khabariyah. Karena jumlah itu, susunan kalimat yang menunjukkan ketentuan sesuatu. Lain halnya pertanyaan, dan harapan, tidak dikualifikasikan pada ungkapan yang mencapai pada ilmu. Yang perlu dijaga adalah tidak adanya kesalahan. Untuk itu menurut Aristoteles, perlu digunakan alat qiyas jamy (sylogisme). Dengan qiyas jamy (sylogisme) yang benar dengan menggunakan asas burhani, mencapai langkah ketiga dan akan sampai pada pengertian yang dapat difahami atau dinilai benar atau salah.

Secara umum cara ini benar tetapi tidak semuanya menjamin kebenarannya secara logis. Karena sebagian hasil qiyas jami hanya memberikan informasi (khabar) yang dapat dipandang benar atau salah. Aristoteles memang menyatakan burhan itu dapat saja dicapai sebagai hasil qiyas, tetapi tidak semua (hasil) qiyas itu burhan. Burhan mengandung kebenaran adalah hasil qiyas ilmi. Qiyas Ilmu itu ya burhani, yang harus memenuhi tiga syarat :

  1. Diketahui benar bahwa medium (haddul ausat) yang menjadi illah (sebab) pada natijah (konklusi).
  2. Urut hubungan antara ilah dan natijah (kesimpulan akhir).
  3. Kesimpulan akhir adalah pasti tidak dapat diartikan lain dari itu.[6]

Dalam menggunakan al-burhan sebagai pendekatan juga diikuti oleh pakar filsafat Islam yang mendalami ilmu syari’ah seperti Al-Ghazali. Al-Ghazali dalam kitabnya al-Musthafa min ‘ilmil Ushul, pada awal pembicaraannya membicarakan tentang empat pokok bahasan yang dilampaui oleh para ahli ushul dalam peninjauannya dari aspek petunjuk petunjuk dalil sam’i pada hukum syar’i, ialah :

  1. Membicarakan soal hukum atau tsamarat yaitu hukum-hukum seperti wujub, larangan, nadb, karahah, ibahah, baik dan buruk, pelaksanaan pada waktunya (ada) maupun diluar waktunya (qadla), sah dan batal, dsb.
  2. Membicarakan dalil dan macam-macamnya yang menurut al Ghazali disebut mutsmi (yang membuahkan hukum). Adapun yang menghasilkan hukum adalah dalil-dalil yang menurut al-Ghazali ada tiga saja yakni: al-kitab, al-sunnah, dan Ijma’.
  3. Bagaimana mengeluarkan atau mengambil hukum dari dalil yaitu ada empat yakni dari bentuknya dan susunanya, dari makna yang tersurat dan makna yang tersirat dari kandungannya, dan dari pengertian yang bisa ditanggapi oleh akal.
  4. Kualifikasi orang yang mengeluarkan hukum atau dalil.[7]

Dalam pendahuluan kitab tersebut diatas, sebagaimana ilmu lainnya, perlu dikemukakan batasan dan bukti (had dan burhan). Adapun had adalah jawaban dari sesuatu soal yang intinya jawaban terhadap empat pertanyaan. Empat pertanyaan itu ialah: a. Apakah, b. Apa, c. Mengapa yang sial itu mempertanyakan tentang sebab dan jawabannya harus dengan burhan (bukti). Seperti pernyataan had (batasan) khamr itu haram. Timbul pertanyaan, mengapa? Jawabnya karena khamr itu minuman yang memabukkan. Kalau kenyataannya memang diketahui memabukkan tanpa adanya mediator, tidak perlu burhan (bukti). Kalau tidak diketahui tanpa sarana maka diperlukan sarana sebagai bukti (burhan).

Epistem Burhani: Persinggungannya dengan Epistem Bayani dan Irfani

Ketiga epistem yang telah disebutkan, yaitu bayani, irfani, dan burhani, sebenarnya masih dalam satu rumpun, namun kenyataan membuktikan bahwa ketiganya sulit untuk disatukan. Bahkan, antara satu dengan yang lainnya saling bertolak belakang. Akibatnya, para penganut dari masing-masing epistem tersebut bisa saling menuduh dan mengkafirkan. Oleh karenya, pola pikir tekstual bayani lebih dominan dan menghegemoni. Akibatnya, pola pemikiran keagamaan model bayani menjadi kaku. Dominasi ini menjadikan sistem epistimologi keagamaan Islam kurang peduli terhadap isu-isu keagamaan yang bersifat kontekstual.

Menurut Amin Abdullah bahwa  kelemahan yang paling mencolok dari tradisi nalar bayani adalah ketika ia harus berhadapan dengan teks-teks keagamaan yang dimiliki oleh komunitas, kultur, bangsa atau masyarakat yang beragama lain. Sikap yang diambil oleh nalar bayani ketika berhadapan dengan komunitas agama lain biasanya bersifat dogmatik, defensif, apologis, dan polemis, dengan semboyan “right or wrong my country”.[8]

Masih menurut Amin Abdullah,[9] pola pikir bayani ini dapat dikembangkan apabila ia mampu memahami, berdialog dan mengambil manfaat sisi-sisi fundamental yang dimiliki oleh pola pikir irfani dan burhani. Demikian juga sebaliknya, pola pikir irfani dan burhani juga mampu berbuat demikian ketika berhadapan dengan pola pikir bayani. Sebab, jika masing-masing saling mempertahankan diri serta tidak mau berhadapan dan bersinggungan dengan lainnya, tidak menutup kemungkan akan terjadi sulitnya pengembangan ilmu-ilmu keisalaman dalam menghadapi problem-problem kontemporer.

Sekarang yang menjadi persoalan adalah bagaimana bentuk hubungan ketiga epistem itu, apakah paralel, linier, ataukah sirkulasi?. Menganggapi masalah ini, Amin Abdullah dalam makalahnya yang berjudul “Al-Ta’wil Al-Ilmi: Kearah Perubahan Paradigma Penafsiran Kitab Suci” telah menjelaskan secara panjang lebar tentang hubungan ketiganya. Di bawah ini kami akan merangkum pola hubungan ketiga epistem tersebut sebagai berikut:

  1. 1.      Pola Hubungan Paralel[10]

Menurut Amin, jika pola hubungan paralel yang akan diterapkan, maka masing-masing corak epistimologi akan berjalan sendiri-sendiri tanpa ada hubungan dan persentuhan antara yang satu dengan yang lainnya dalam diri seorang ilmuwan, ulama, aktivis, da’i, atau agamawan. Demikian juga, nilai manfaatnya, baik secara teoritis maupun praktis akan sangat minimal sekali.

Bentuk hubungan model ini memberikan asumsi bahwa dalam diri seorang ilmuan agama Islam terdapat tiga jenis epistimologi keilmuan secara sekaligus, dan masing-masing ketiganya berada pada tempatnya masing-masing serta tidak mampu berdialog dengan epistem lainnya. Jika ketiga epistem tersebut dilustrasikan, maka gambarannya sebagai berikut:

Nalar Bayani

 Nalar Irfani

 Nalar Burhani

  1. 2.      Pola Hubungan Linier[11]

Pola hubungan yang kedua ini pada akhirnya juga akan menemui jalan buntu. Pola hubungan ini semula telah diasumsikan bahwa salah satu dari ketiga nalar epistimologi tersebut akan menjadi primadona. Seorang ilmuwan agama Islam akan mengabaikan masukan yang diperolehnya dari berbagai corak epistem yang dikenalnya. Sedangkan, jenis epistem yang diambilnya dipandang sebagai satu-satunya epistemologi yang ideal dan final. Pada akhirnya, jenis ini akan mengalami kebuntuan keilmuan, baik berupa dogmatis teologis atau nihilistik, bahkan sampai pada kebuntuan scientifik. Jika digambarkan hubungan ketiganya seperti berikut ini.

Nalar Bayani                                                          Nalar bayani*

 Nalar Irfani

 Nalar Burhani

  1. 3.      Pola Hubungan Sirkuler[12]

Pola hubungan yang ketiga ini merupakan pola hubungan yang paling baik dibandingkan dengan kedua pola yang telah disebutkan sebelumnya. Sebab, pola hubungan ini mampu memahami keterbatasan, kekurangan dan kelemahan yang ada pada masing-masing epistem, sekaligus mampu mengambil manfaat yang ditawarkan oleh tradisi keilmuan yang lain dan mampu memperbaiki kekurangan yang melekat pada masing-masing epistem. Pola hubungan yang demikian ini oleh Amin Abdullah disebut sebagai al-Ta’wil al-Ilmi.[13]

Cara kerja dari al-ta’wil al-ilmi sebagaimana dijelaskan Amin dengan memanfaatkan gerak putar hermeneutis antar ketiga corak tradisi epistimologi keilmuan Islam yang telah baku tersebut. Oleh karenanya, kekuatan, kekeliruan, ketidaktepatan, anomali-anomali, dan kesalahan yang melekat pada masing-masing epistimologi pemikiran keagamaan islam dapat dikurangi dan diperbaiki, setelah memperoleh masukan dan kritik dari jenis epistimologi yang datang dari luar dirinya. Gambarannya adalah sebagai berikut:

Nalar Bayani

Tekstual

Normatif

——————————————————

Kontekstual

Historis-empiris

                                                            Nalar Burhani                                                                            Nalar Irfani

Penutup

Secara epistimologis, ketiga nalar ilmu-ilmu keislaman, seperti bayani, irfani, dan burhani memiliki cara pandang yang berbeda-beda. Jika nalar epistimologi bayani lebih menekankan pada teks, irfani pada pengalaman langsung, maka burhani bersumber pada realitas, baik realitas alam, sosial, humanitis, maupun keagamaan.

Meskipun dalam perjalanan sejarah, ketiga struktur epistimologi tersebut sulit untuk disatukan, namun telah ada yang mencoba menggabungkan antara ketiganya, seperti tradisi bayânîy-irfânîy, bayânîy-burhânîy, dan burhânîy-irfânîy. Dalam hal ini Muhammad Abed al-Jabiri telah membuat tipologi yang dapat mewakili masing-masing pemikiran, di antaranya al-Haris al-Muhasibi mewakili tipologi pemikiran bayaniy-irfaniy; al-Kindi memadukan tradisi bayaniy-burhaniy; sementara kelompok ikhwan al-shafa dan failusuf Ismailiyyah mewakili tipologi burhânîy-irfânîy.

Dari ketiga hubungan yang ditawarkan Amin Abdullah, seperti pola hubungan paralel, linier, dan sirkuler, maka pola hubungan yang disebutkan terkahir yang  mampu berdialog dan berkomunikasi dari masing-maisng epistemologi. Sebab, baik yang disebutkan pertama maupun yang kedua, belum mampu memahami kekurangan atau kelebihan dari ketiga nalar tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M. Amin, “Al-Ta’wil Al-Ilmi: Kearah Perubahan Paradigma Penafsiran Kitab Suci” dalam Al-Jami’ah, Vol. 39 Number 2 July-Desember 200

——–, Studi Agama: Normativitas atau Historisitas?, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996

——–, Bunyah al-‘Aql al-‘Arabi: Dirasah Tahliliyah Naqdiyyah li Nuzhum al-Ma’rifah fi al-Tsaqafah al-‘Arabiyah, Beirut: Markaz al-Tsaqafiy al-Arabiy, 1993

——–, Post Tradisionalisme Islam, Yogyakarta: LkiS, 2000

Boullatta, Issa J., Dekonstruksi Tradisi, terj. Imam Khoiri, Yogyakarta: LKiS, 2001

Ibn Rusyd, Kaitan Filsafat Dengan Syari’at, terj. Ahmad Shodiq Nor, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996

Madjid, Nurcholish, Islam Doktrin dan peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan dan Kemodernan, Jakarta: Paramadina, 1992


[1]Lihat lebih lanjut Muhammad ‘Abed al-Jabiri, Bunyah al-‘Aql al-‘Arabi: Dirasah Tahliliyah Naqdiyyah li Nuzhum al-Ma’rifah fi al-Tsaqafah al-‘Arabiyah (Beirut: Markaz al-Tsaqafiy al-Arabiy, 1993), cet. III, h. 383

[2]Ibid., h. 383

[3]Ibid., h. 384

[4]Lihat Prof. Drs. H. Asymuni Abdurrahman, Pendekatan Burhani Menurut al-Jabiri, dalam Suara Muhammadiyah, (No. 10 Th. Ke-87, 16-31 Mei 2002), h. 22

[5]Ibid.

[6]Ibid.

[7]Ibid., 23

[8]Ibid.

[9]M. Amin Abdullah, “Al-Ta’wil Al-Ilmi: Kearah Perubahan Paradigma Penafsiran Kitab Suci” dalam Al-Jami’ah, Vol. 39 Number 2 July-Desember 2001, h. 373

[10]Lihat ibid., h. 384

[11]Lihat ibid., h. 385

*Nalar Bayani dapat berubah menjadi nalar Irfani atau Burhani, tergantung pada latar belakang pendidikan, keilmuan serta kecenderungan dan kepentingan masing-masing pribadi

[12]Ibid., h. 286

[13]Lihat  ibid., h. 287

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s